Punya Apa Setelah Umur 35 Tahun?

by retnolestari

Suatu hari di awal Januari 2021 seorang temen nanya, “Di umur lo yang udah 35 tahun ini, lo udah punya apa aja?” Pertanyaan yang bagus, karena saya jadi mikir, saya udah punya apa aja ya.

Kemudian hal yang terpikir pertama kali di kepala saya adalah HUTANG! (Halo KPR), yang kedua adalah anak, yang ketiga adalah gelar S2, yang keempat adalah…. hmmm… bingung.. karena ternyata banyak banget yang belum saya punya.

Dan yang belum saya punya adalah hal-hal non kebendaan seperti wisdom, emotional maturity, good discipline, good habit, good productivity.

Pertanyaannya, kenapa? Kenapa di usia 35 tahun saya masih merasa punya kontrol yang lemah atas diri saya sendiri? Apa yang salah dengan saya?

Setelah saya menyelami diri dan membaca banyak artikel dan beberapa buku, ternyata budaya yang menuntut kita untuk mendapatkan persetujuan tentang apapun yang kita lakukan, membuat kita jadi terhambat untuk melangkah.

Kita tidak dibiarkan untuk melakukan kesalahan karena kita terlalu dilindungi. Kita dihindarkan dari mengambil keputusan yang salah supaya jalan kita lebih mulus. Tujuannya memang mulia, tapi ternyata dampak dari budaya ini adalah ketakutan kita akan kesalahan dan kegagalan. Padahal kesalahan dan kegagalan adalah guru yang sangat efektif untuk membantu kita berkembang.

Berbagai penelitian menunjukkan bahwa budaya asuh yang mengharuskan kita meminta izin atas banyak hal kepada orang tua karena orang tua ingin melindungi kita, punya banyak dampak buruk seperti kebergantungan terhadap orang tua, resiko memiliki masalah psikologis yang tinggi, kurangnya mekanisme diri untuk bertahan dalam kesulitan, dan kecemasan yang berlebihan.

Saat diri kita mulai terpapar dengan budaya lain dari keluarga berbeda atau dari negara berbeda, barulah kita bisa berpikir apakah pola asuh yang kita dapatkan adalah benar. Kalau ternyata tidak, kita akan mencoba untuk keluar dari budaya ini. Akan tetapi, ketika masih hidup di tengah-tengahnya, mana bisa kita mengubahnya?

Lalu, jalan apa yang harus kita lakukan ketika kita kini merasa terjebak dengan sebuah budaya yang kita yakini menghambat kita berkembang secara mental dan psikologis?

Beberapa waktu belakangan, saya membaca buku-buku self-help, menonton channel di YouTube yang bisa membantu mengubah pola pikir saya, dan memperkuat diri saya untuk menjadi orang yang lebih baik.

Saya pun menggunakan jasa psikolog dan hypnoterapi untuk memahami diri saya lebih dalam lagi dan mendapatkan solusi.

Ada literatur yang saya baca mengatakan bahwa untuk mematahkan pola tersebut, kita harus tinggal di lingkungan yang berbeda seperti tinggal di negara yang berbeda.

Tapi saya sendiri merasa itu bukan jawabannya, karena kalaupun kita tinggal di tempat lain, komunikasi toh tetap terjalin dan dalam komunikasi tersebut, intervensi dari budaya lama masih tetap berjalan.

Maka dari itu, memperkuat mental dan hati adalah cara terbaik supaya kita bisa menjadi apa yang kita mau dan mempunyai apa yang kita ingin miliki. Untuk saya, membaca dan mengubah kebiasaan sehari-hari sungguh mampu memperbaiki hal-hal non kebendaan yang saya miliki hingga suatu hari saya bertumbuh jadi pribadi yang saya inginkan.

You may also like

Leave a Comment