Melawan Kemalasan

by retnolestari

Sesuatu yang tidak ditargetkan dan tidak ada yang mengawasi biasanya enggan cepat kita laksanakan. Bukan karena nggak punya waktu atau nggak pengen, tapi karena kemalasan akibat tidak terdorong dengan adanya ancaman.

Contohnya kalau kita bekerja, kita pasi mati-matian untuk bisa menyelesaikan pekerjaan. Kenapa? Karena ada deadline, ada pengawasan, dan ada ancaman yang membuat kita kepepet dan mau nggak mau harus dilakukan meskipun kita nggak suka, malas, atau sebenarnya nggak bisa. Toh akhirnya bisa-bisa aja, selesai-selesai aja. Meskipun kualitasnya belum tentu yang terbaik. Tapi lambat laun pasti hasil dari pekerjaan kita membaik seiring dengan pengalaman.

Ketika kita menginginkan sesuatu di luar dari kewajiban yang kita jalankan sehari-hari, alias berdasarkan inisiatif kita, seringkali otak dan badan kita tidak berjalan seperti biasanya. Kenapa? Karena kita tidak menerapkan rencana, deadline dan punishment kalau kita tidak menyelesaikannya.

Setelah memutuskan untuk menjadi seorang entrepreneur dengan berjualan skincare, buku, dan training, saya pun mulai merasakan betapa bergantungnya saya selama ini terhadap orang lain dan sistem yang sudah terbangun. Saya baru menyadari bahwa saya masih tidak konsisten dalam membangun sistem untuk kemudahan pekerjaan saya.

Sekarang saya sudah mulai membangun sistem untuk diri saya sendiri, yang bisa membantu saya melawan kemalasan. Ini dia:

Membeli Planner Book

Mencatat di buku bukanlah gaya saya. Tapi ternyata, mencatat di buku itu sangat penting sekali untuk membantu kita menstrukturkan apa yang ada di pikiran.

Saya menulis pada malam hari, apa saja yang harus saya kerjakan keesokan harinya. Saya juga mengevaluasi apa saja yang telah saya kerjakan hari ini, lalu mencatat kenapa ada beberapa yang tidak tercapai untuk dikerjakan.

Beberapa bulan membuat catatan ini, saya jadi tau berapa priortas pekerjaan yang bisa saya kerjakan setiap hari, di tengah tugas lainnya sebagai seorang ibu.

Menggunakan Airtable

Jika buku planner isinya adalah rencana garis besar, maka aplikasi Airtable sangat membantu saya untuk membreakdown pekerjaan saya sampai hal yang paling kecil.

Saya merencanakan postingan blog, Instagram, konten training, silabus, dan lain-lain di Airtable karena sangat simpel dan mudah untuk digunakan.

Setiap saya punya ide tambahan, saya akan mencatatnya dulu di buku jurnal lalu memindahkannya ke Airtable.

Google Calendar

Saya menggunakan Google Calendar untuk memberikan diri saya deadline! Kapan harus menyelesaikan apa. Saya masukan tanggal dan jamnya serta alarm supaya otak saya menolak lupa.

Andaikan Google Calender punya bot yang berperilaku seperti bos, mungkin saya akan jadi lebih terpacu untuk menyelesaikan segala ide yang sudah saya mulai.

Evaluasi Setiap Minggu dan Bulan

Kalau sudah evaluasi harian kenapa harus evaluasi mingguan? Evaluasi mingguan ini sangat penting karena produktivitas kita jadi terlihat lebih jelas.

Kita bisa tau apakah kita masih malas atau sudah mulai berprogress. Lalu di akhir bulan, saya mencatat ulang apa yang sudah saya capai. Pencatatan apa yang sudah saya capai ini meningkatkan kebahagiaan saya, karena saya percaya bahwa kebahagiaan akan dirasakan oleh mereka yang bertumbuh.

The Power of Kepepet

Konsep ini sebetulnya bukan hal yang baru. Tapi benar kata Jaya Setiabudi dalam bukunya The Power of Kepepet. Kita akan terpaksa bergerak ketika kita kepepet. Kita nggak akan malas lagi kalau kita dipaksa habis-habisan untuk mengerjakan tanggung jawab kita.

Kita pasti jarang sekali mengalami kegagalan jika kita benar-benar serius dan semangat melakukan sesuatu. Jadi kita harus menciptakan sendiri situasi kepepet kita.

Jurnal dan Google Calender adalah cara paling kecil untuk membuat diri kita kepepet.

Kalau kamu berbinis, cara kepepet yang bisa dilakukan adalah gunakan uang tabungan atau pakai uang orang lain atau institusi untuk modal. Dan tentunya harus disertai deadline. Tanpa deadline kita tidak akan pernah mencapai target kita.

Keterpaksaan Jadi Kebiasaan

Kalau kita malas tapi kita memaksa diri kita dengan rencana dan deadline, maka lama-lama kita akan terbiasa menjadi bos untuk diri kita sendiri.

Pada saat keterpaksaan jadi kebiasaan, maka produktivitas yang ada akan mendorong kepada kesuksesan. Kalau saya bisa mendapatkan berbagai achievement di luar pekerjaan (kewajiban) artinya saya pasti bisa melakukan apa yang bisa orang lain capai dengan target dan ketekunan.

Bagaimana dengan kamu? Bagaimana cara kamu mengatasi kemasalan?

You may also like

Leave a Comment