Exit Strategy Penting Untuk Pemburu Beasiswa

by retnolestari

Mungkin kamu sering mendengar exit strategy dalam dunia bisnis. Tapi sebenarnya, exit strategy ini dibutuhkan dalam perencanaan kehidupan kita. Buat kamu yang sedang memburu beasiswa atau berminat apply beasiswa, exit strategy ini penting kamu pikirkan sejak awal.

Apa itu exit strategy dalam beassiwa? Exit strategy maksudnya strategi yang harus kamu rencanakan dengan bertanya, “Kalau udah selesai menempuh pendidikan dengan beasiswa, gw mau ngapain ya?” Jangan kamu pulang tanpa persiapan karena meninggalkan pekerjaan untuk kuliah selama 1-4 tahun di luar negeri artinya kamu tertinggal dari orang-orang bekerja lainnya di Indonesia. Ketika sektor kerja berlari, kuliah ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri membuat kamu berhenti.

“Ketika sektor kerja berlari, kuliah ke jenjang yang lebih tinggi di luar negeri membuat kamu berhenti.”

Saya pertama kali dengar exit strategy ini dari teman saya Ratnasari Dewi via artikel pertama Indonesia Mengglobal. Tulisan Mba Greenjo, begitu dia biasa disapa, membuka mata saya akan pentingnya perencanaan dalam karir pasca study. Dalam tulisan itu, Mba Greenjo mengatakan bahwa ketika dia pulang dari Amerika Setelah menempuh dua tahun pendidikan dengan beasiswa Fulbright, dia kesulitan mencari pekerjaan yang tepat. Ada waktu setahun menganggur yang tidak dia sangka akan terjadi sebelumnya.

Kuliah di Luar Negeri Membuat Orang Bereuforia

Salah seorang mantan atasan saya, yang waktu itu menjabat sebagai pemimpin redaksi di sebuah stasiun televisi berkata bahwa dirinya kerap membantu mereka yang baru pulang kuliah di luar negeri dengan beasiswa untuk mendapatkan pekerjaan. Menurutnya, kuliah di luar negeri apalagi dengan beasiswa membuat banyak orang bereuforia dan sering kali jadi besar kepala. Ketika euforia terjadi, mereka ingin pulang ke Indonesia dan mendapatkan pekerjaan dengan posisi yang tinggi dan dengan kenaikan gaji yang cukup besar. Sebagian juga jadi sangat idealis karena merasa memiliki kompetensi di atas rata-rata, sehingga butuh waktu lama untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka inginkan. Atau lebih parahnya, tidak kunjung dapat kerja berbulan-bulan lamanya atau bahkan lebih dari setahun.

Saya ingat benar seorang sahabat saya yang baru pulang dari kuliah S2 dari luar negeri dengan beasiswa merasa kecewa oleh pernyataan seorang manager HRD di tempat kerja yang dia lamar. Manager HRD itu berkata, “Terus kenapa kalau kamu pulang dari sekolah tinggi di luar negeri?” Menurut sahabat saya, manager HRD ini tidak menghargai jerih payah yang dilakukan pemuda Indonesia untuk menuntut ilmu di negara maju untuk lebih memajukan bangsa. Tapi saya pun berkata bahwa itulah kenyataannya di Indonesia, banyak yang tidak menghargai mereka yang sekolah tinggi. Mereka lebih memilih mempekerjakan orang-orang dengan pendidikan rata-rata, tapi bisa digaji lebih rendah untuk menghemat pengeluaran perusahaan.

HRD Kebingungan Menggaji Lulusan Luar Negeri

Lebih tragisnya lagi, euforia ini juga memakan korban mereka yang baru lulus S1 tapi langsung lanjut S2 di luar negeri dengan beasiswa. Salah seorang teman dekat saya yang lulusan S2 Inggris dengan beasiswa pemerintah terheran-heran dengan banyaknya fresh graduate yang langsung berkesempatan S2 di luar negeri, langsung memasang harga tinggi untuk gajinya. Padahal, pengalaman kerjapun belum punya. “Gila kali ya, Mba. Gw kerja bertahun-tahun aja belum sampai gaji segitu. Ini pada jual mahal,” katanya. Akhirnya apa? Banyak pengangguran berpendidikan tinggi.

Saya punya teman yang menjadi staff HRD. Dia bilang bahwa perusahaan bingung juga untuk menggaji mereka yang lulusan luar negeri, terlebih lagi yang lulus S2 dari luar negeri tanpa ada pengalaman kerja. Karena ujung-ujungnya, skill itu didapat dari pengalaman, bukan dari pembelajaran akademik.

Lain lagi dengan pengalaman teman saya lainnya. Ketika pulang dari kuliah dari luar negeri, dia kembali ke kantor lamanya. Sayangnya, tidak ada kenaikan jabatan atau kenaikan gaji seperti yang dia bayangkan. Jadilah dia stuck dengan karirnya, padahal dia punya kualifikasi lebih dari rekan-rekan kerjanya.

“Lho, jadi apa dong gunanya jadi lulusan S2 luar negeri?” Nah, pertanyaan ini yang menurut saya harus kamu dalami dulu sebelum memutuskan untuk meninggalkan pekerjaan untuk berkuliah S2 di luar negeri atau baru lulus kuliah S1 langsung pengen S2 di luar negeri. Tanya kepada dirimu, apa yang kamu cari dengan sekolah lebih tinggi? Apakah kamu yakin tujuan yang kamu ingin capai memerlukan S2 di luar negeri? Kalau sudah lulus dari S2 di luar negeri, apa rencana kamu? Temukan akarnya dulu sebelum kamu melangkah jauh. Merenung, membaca, atau bahkan mengobrol dengan atasan kamu atau orang-orang yang sudah lebih dulu mendapatkan apa yang ingin kamu raih.

Saya jadi ingat ada yang namanya retrospective approach. Teman saya, Head of Content di Zenius, Daniel Rahmad memperkenalkan saya dengan pendekatan ini. Dia memberikan link ini yang menurut saya patut kamu tonton untuk bisa memiliki dasar pemikiran yang benar sehingga bisa merancang exit strategy yang baik.

Bagaimana Exit Strategy Yang Baik?

Apa itu exit strategy yang baik? Tentunya yang memberikan keuntungan paling besar buat kamu dan lebih bagus lagi kalau bisa punya dampak untuk orang lain. Bagaimana bisa membuat exit strategy yang baik? Selain menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, kamu juga perlu punya visi yang jelas.

Meminjam dari kuliah bisnis saya bersama Future Female Business School, setidaknya ada 3 visi yang harus kita miliki. Pertama, visi untuk dunia. Kedua, visi untuk bisnis (atau apapun yang kita kerjakan). Ketika, visi untuk diri kita sendiri atau lifestyle kita. Dengan menuliskan ketiga visi ini, maka kamu akan tau target kamu dan akhirnya jadi bisa memprediksi apa saja yang dibutuhkan untuk mencapainya.

Sebagai contoh, mimpi saya untuk dunia adalah setiap orang harus berpendidikan dengan kompetensi internasional sehingga bisa mengambil keputusan tepat dalam hidup dan bersaing di dunia global dan setiap orang harus merasa percaya diri dengan dirinya sendiri. Sementara itu mimpi saya untuk bisnis yang saya bangun adalah bisa menyediakan ekosistem pendidikan holistik yang sesuai dengan kebutuhan jaman untuk jutaan orang dan sekaligus mengedukasi mereka dalam perawatan diri. Saya percaya bahwa memandang jauh keluar itu harus, tapi melihat ke dalam diri sendiri itu juga tidak boleh dilupakan. Sementara untuk diri saya sendiri, saya waktu itu mempunya visi untuk tidak lagi bekerja untuk orang lain dan membangun mimpi saya sendiri. Saya ingin bisa bekerja dari manapun dan memiliki waktu yang fleksibel supaya bisa lebih mempunyai waktu dengan anak.

Dengan memiliki visi ini, saya kemudian jadi tau apa yang harus dilakukan. Saya membuat list langkah-langkah yang harus saya lakukan untuk mencapainya dan mengeliminasi kegiatan yang tidak sejalan dengan visi saya di atas. Jadi bukan saja to-do-list yang saya buat tapi juga not-to-do-list. Pulang dari kuliah S2 di awal 2020 lalu, saya langsung mendirikan SAVSKIN, menulis buku, menjalankan project live streaming, dan membangun TransforMe. Saya sempat melenceng dari rencana ini dengan mengambil sebuah pekerjaan di perusahan baru yang pada akhirnya tidak membayar gaji saya sejak awal bekerja hingga kontrak 3 bulan habis. Pelajaran yang berhaga sekali, kalau kita sudah berencana, kita harus konsisten menjalankannya.

Lalu pertanyaannya, apakah dengan visi tersebut di atas saya bisa mencapainya “hanya” dengan bermodalkan pendidikan S2 luar negeri saja? Tentu jawabannya tidak.

Jangan Hanya Fokus di Akademis

Ketika kita kuliah S2 di luar negeri, apalagi dengan beasiswa, kita cenderung ambisius untuk bisa meraih nilai sebagus-bagusnya. Tidak ada yang salah dengan target ini, karena saya pun demikian. Di awal kuliah saya merasa harus lulus dengan distinction karena terbiasa mencapai target dalam dunia kerja. Saya belajar intens setiap hari hingga tengah malam, membaca berbagai buku dan jurnal sampai saya stress sendiri.

Akhirnya saya berdamai dengan diri sendiri dan bisa lebih santai dalam menjalani perkuliahan. Hasilnya? Mau saya belajar jungkir balik setiap hari dan tidur cuma 5 jam selama sebulan dan saya belajar 5 hari seminggu dengan jam seperti jam kerja 9-5, outputnya sama saja.

Ini adalah problema banyak orang yang sekolah lagi setelah bekerja cukup lama. Kita jadi lupa bahwa kuliah lagi itu adalah kembali belajar. Ketika belajar, target kita harusnya adalah memahami. Nilai jelek dan kegagalan adalah bagian dari pembelajaran yang sangat baik bagi kita. Nilai jelek berbeda dengan hasil kerja yang tidak maksimal dan mengecewakan atasan atau klien.

Masalahnya, ketika kita hanya fokus di sisi akademik saja, kita melupakan faktor-faktor penting lainnya yang dibutuhkan untuk exit strategy kita, salah satunya adalah networking. Kita tidak melihat bahwa kuliah di luar negeri merupakan kesempatan besar untuk networking. Salah seorang pengusaha ternama Indonesia yang saya temui saat kuliah di Inggris mengatakan saat kita berada di luar negeri, kita merasa lebih dekat dengan orang Indonesia lainnya. Ada perasaan yang berbeda dan membuat kita bisa lebih menyatu. Itulah sebabnya kita bisa lebih dekat dengan petinggi-petinggi negara di luar negeri. Lebih lanjut lagi beliau mengatakan bahwa banyak sekali lobi-lobi tingkat tinggi dilakukan oleh pengusaha kepada pemerintah atau bahkan presiden, saat mereka di luar negeri. Secara psikologis, proximity ini membantu terjalinnya kerjasama. Nah, kalau kita cuma sibuk kuliah saja, moment-moment ini akan lewat begitu saja.

Ketika kita ambisius secara akademik, terkadang jadi susah untuk punya waktu mendapatkan pengalaman bekerja atau berorganisasi yang bermanfaat ketika pulang ke Indonesia. Bekerja di luar negeri menjadi white-collar di bidang yang kita geluti itu teramat sulit, terlebih untuk mahasiswa S2 yang cuma punya waktu belajar pendek. Mengejar internship pun harus dilakukan jauh-jauh hari, bahkan sejak kita menginjakkan kaki di luar negeri. Padahal, pengalaman kerja di luar negeri inilah yang akan memberikan value besar untuk kamu bawa pulang ke Indonesia dan dijadikan modal tambahan di CV untuk melamar kerja.

Yang Saya Lakukan di Luar Perkuliahan

Ketika saya memutuskan untuk kuliah di luar negeri, saya sudah mempunya rencana untuk melakukan banyak hal di luar kuliah. Jalan-jalan bukan jadi tujuan utama saya, karena pekerjaan saya sebelumnya sebagai wartawan, telah memberikan kesempatan saya untuk berkunjung ke berbagai negara.

Saya saat itu menulis bahwa saya ingin bekerja freelance yang mengajarkan saya kemampuan menjual produk atau jasa, mengikuti business incubator dan mentorship dan networking. Saya melakoni berbagai pekerjaan, mulai dari bekerja sebagai sales assistant di Harrods, menjadi pemandu wisata, fotografer, makeup artist, kontributor TV swasta, translator, hingga ikutan program incubator dari Bank Natwest dan aktif di Loughborough Enterprise Network di kampus saya. Saya aktif mengikuti kegiatan yang diselenggarakan untuk pemberi beasiswa saya, Chevening. juga sering menemani pejabat atau pengusaha Indonesia yang datang ke Inggris untuk sekedar naik kereta atau memperkenalkannya ke kampus saya.

Saya juga menjalin hubungan baik dengan dosen-dosen di kampus saya, yang hingga saat ini masih kotak-kotakan via telfon, Whatsapp ataupun email. Hasilnya, semua usaha yang saya lakukan tersebut mendukung exit strategy saya untuk membangun usaha. Ya, exit strategy saya dari menyelesaikan perkuliahan S2 adalah menjadi pengusaha!

Apa Exit Strategy Untuk Karyawan Kantoran?


Buat kamu yang mau kembali ke kantor lama, exit strategy bisa disiapkan dari sebelum berangkat kuliah ke luar negeri. Salah seorang teman saya bercerita, bahwa dia menghadap bos di kantornya dan bertanya blak-blakan tentang bagaimana kesempatan dia untuk naik jabatan ketika dia pulang dari sekolah di luar negeri. Atasannya saat itu berkata bahwa peluang itu terbuka, tapi tergantung apakah ada posisi yang lebih tinggi yang sedang dibutuhkan.

Adalagi teman saya yang bernegosiasi sesaat sebelum pulang ke kantor lamanya. Dia mengusulkan diri untuk pindah posisi ke yang lebih sesuai dengan ilmu barunya untuk memberikan inovasi. Dia pun berinisiatif melakukan presentasi untuk rencana inovasinya tersebut. Atasannya menerima dengan baik dan memperjuangkannya ke perusahaan.

Sementara buat kamu yang saat mau berangkat ke luar negeri memutuskan meninggalkan perusahaan, incar perusahaan apa yang ingin kamu masuki. Buat strategy bagaimana kamu bisa terhubung dengan mereka. Ada salah satu kenalan saya saat berkuliah di luar negeri, mengambil disertasi tentang Twiter. Disertasi ini membuka kesempatan untuk dirinya bekerja di Twiter Indonesia.

Atau kamu juga bisa melakukan kontak dengan bos-bos di perusahaan yang kamu incar via LinkedIn. Kirimkan pesan untuk meminta kesediaan bos-bos ini melakukan informational interview tentang apa kebutuhan perusahaan dan bagaimana kira-kira kamu bisa menjadi bagian di dalamnya. Saya pernah melakukan hal ini untuk masuk ke dunia Public Relation dan hasilnya saja bekerja di kantor PR yang memang saya incar.

Jadi, apakah teman-teman sudah paham tentang exit strategy ini? Kalau iya, apa exit strategy kamu?

You may also like

Leave a Comment