Kita Adalah Benda Tanpa Jiwa

by retnolestari
Orang melihat handphone

Hidup di bumi pertiwi penuh dengan pengajaran bahwa kita harus menjadi manusia yang santun. Di generasi yang lalu, menghormati sesama apalagi kepada mereka yang sudah tua berarti adanya keharusan untuk mengindahkan perkataannya. Menjawab atau membela diri adalah terlarang. Jadilah kita sempat menjadi generasi yang diam.

Kini pintu kebebasan itu terbuka. Orang tua tidak lagi sekuat kata dunia yang menjejali kita dengan pemahaman baru setiap detiknya hanya dalam jarak genggaman saja.

Akibatnya, generasi yang sekarang bisa menyuarakan aspirasinya. Bukan cuma bisa menjawab atau membela, menyerang pun sudah menjadi bagian dari jati diri. Tengoklah media sosial. Kita tak kenal, tapi kita memusuhi. Kita bukan orang tua, tapi kita menggurui. Kita bukan jaksa, tapi kita menuntut. Kita bukan hakim, tapi kita memberi putusan.

Untuk banyak orang, perilaku ini menggambarkan keberanian. Tapi bagi kita yang punya kesadaran, perilaku ini adalah sifat pengecut. Kita menyindir, menghakimi, menyerang, dengan disaksikan sebuah kelompok. Kelompok dalam sebuah ruang fana tanpa batas di mana kita berinteraksi tanpa memberikan sentuhan emosi, sehingga kita tidak lagi peduli apabila perkataan kita menyakiti. 

Duel menjadi langka karena kita larut dalam relasi kekuasaan dan narsisme, di mana saat kita berbicara kitalah pemilik panggungnya. Kita berdiri di atas mimbar seolah sebagai penguasa yang didengarkan oleh para pengikutnya. Apa tujuan sebenarnya? Pernahkah kita bertannya? 

Kita hanya ingin membuktikan kebenaran dari sudut pandang kita. Padahal kebenaran tidaklah mutlak, karena pemaknaannya bisa berbeda-beda. Tapi toh kita tidak peduli dengan mereka yang disekitar kita. Kita hanya peduli dengan hak kebebasan untuk menyampaikan apa yang ada di kepala dan di hati kita. Ya, hati kita. Bukan hati orang lain.

Seberapapun bermanfaatnya benda bernama teknologi, dia tetaplah tidak bernyawa, tidak berempati, dan tidak punya emosi. Jika kita menggunakannya tidak dengan kesadaran, maka kita pun berubah menjadi sama. Hanya sebuah benda tanpa jiwa. 

Leave a Comment