Pengalaman Gagal LPDP

by retnolestari
Mengantri untuk tes kesehatan LPDP

Gimana rasanya gagal LPDP? Kesal pastinya. Karena seleksi LPDP yang saya ikuti tahun 2017 itu banyak banget persyaratannya. Bukan cuma harus bikin essay, tapi juga harus tes kesehatan, dapat surat keterangan kelakuan baik, dan segala macamnya. Belum lagi tes FGD dan interview di hari yang sama, sehingga harus menunggu di STAN Bintaro yang panas luar biasa seharian.

Apa itu LPDP?

Tentu teman-teman seantero Indonesia sudah tau beasiswa tersohor ini ya. LPDP adalah Lembaga Pengelola Dana Pendidikan atau kerennya adalah Indonesia Endowment Fund for Education. Kalau dapat LPDP kamu bisa kuliah S2 dan S3 ke berbagai negara di dunia dan ke kampus top-top yang masuk daftar list mereka. LPDP membuat kesempatan orang Indonesia untuk menimba pendidikan di negara maju terbuka lebar.

Setiap tahun LPDP buka, kecuali tahun lalu karena pandemik. Nah, tahun 2021 LPDP buka lagi, dan tentu saja jadi incaran sejuta umat. Baca lebih detail aja sendiri ya di websitenya.

Yang spesial dari LPDP?

LPDP punya dana yang sangat cukup buat kamu sekolah di negara lain. Selain dana untuk membayar kuliah dan biaya hidup, ada biaya-biaya lain juga yang diberikan seperti tunjangan buku, tunjangan penelitian, dan lain-lain yang beasiwa lain biasanya tidak cover.

LPDP juga adalah beasiswa dari dan untuk anak negeri. Jadi rasa bangga dan nasionalismenya tentu cukup besar. Mereka yang dapat LPDP tidak perlu merasa “berhutang” dengan negara lain dan bisa full fokus membangun negara sendiri… idealnya…

Kemudian karena yang dibiayai semua orang Indonesia, tentu LPDP jadi membentuk komunitas orang-orang Indonesia yang intelek. Dengan sendirinya akan banyak manfaat yang didapatkan dari jejaring ini.

Lalu apa kekurangannya LPDP? Kalau menurut saya sih karena penerimanya cuma orang Indonesia saja. Tapi kamu sebagai pelajar tentu bisa berjejaring dengan mahasiswa dari negara lain di kampus atau di berbagai kegiatan yang kamu ikuti saat kamu nantinya kuliah ke luar negeri.

Kenapa saya gagal LPDP?

Suatu hari, saya pernah ditelfon oleh seorang wartawan yang ingin mewawancarai saya karena menurut dia, kualifikasi saya masuk untuk dapat LPDP tapi ternyata saya gagal. Saya menolak memberikan keterangan karena kegagalan LPDP sebagian besar karena kesalahan saya, jadi saya tidak menyalahkan siapapun.

Saat apply LPDP, saya memasukkan aplikasi ke kategori edukasi bukan sosial karena saya berpikir itu adalah strategi terbaik. Saat itu, LPDP menempatkan sosial di urutan paling bawah untuk urutan bidang yang bisa mendapat beasiswa. Jadi tentu jumlahnya lebih sedikit dari ranah edukasi. Kemudian saya berpikir dengan memasukan aplikasi saya ke ranah edukasi, saya punya peluang lebih besar. Padahal meskipun tujuan kuliah saya teknis tapi saya berasal dari ilmu sosial. Pengalaman saya dan latar belakang pendidikan saya ada di media dan komunikasi.

Apa yang terjadi? Ternyata ini mempengaruhi siapa yang mewawancari saya. Saat wawancara, saya dihadapkan oleh professor dari bidang edukasi. Sementara saya punya pengetahuan nol soal edukasi. Akhirnya saya kurang bisa berargumen ketika saya dicecar kenapa saya memilih jurusan tersebut.

Memang saya kesal karena pewawancara bilang, “Saya tau persis jurusan itu tidak akan bisa membantu kamu mewujudkan target kamu.” Lalu saya tanya, “Kalau begitu jurusan apa yang cocok?” Beliau menjawab, “Saya kurang tau kalau soal itu.”

Mungkin saya emosi

Mungkin juga saya tidak diterima karena saya cukup berani menjawab pertanyaan mereka. Ya, maklum, saya dulu wartawan yang biasa kritis. Belum lagi saya sendiri tukang protes. Tapi kalau dipikir, saat itu saya memang emosi. Mungkin karena interview saya terjadi dua jam lebih awal, karena beberapa orang sebelum saya tidak ada di sana ketika namanya dipanggil.

Ketika saya menghampiri mereka, mereka bukan menyebut nama saya. Dan aplikasi yang ada di tangan mereka, bukan aplikasi saya. Saya berasumsi mereka baru membaca aplikasi sesaat sebelum bertemu saya atau mungkin mereka baca beberapa hari sebelumnya dan lupa karena banyak yang diinterview. Jadilah pertanyaan yang muncul dari mereka bukan pertanyaan substansial. Akhirnya jawaban saya pun juga tidak substansial.

Mungkin saya nervous

Saya sangat tegang ketika menghadapi wawancara LPDP. Padahal biasanya saat wawancara saya percaya diri. Saya berkeringat dingin dan gemetaran. Mungkin juga karena saya terlalu banyak membaca blog tentang bagaimana menaklukkan interview LPDP yang kesulitannya melegenda. Akhirnya saya jadi terpengaruh dan sudah membayangkan yang buruknya duluan.

Saya pun juga tidak tenang dan banyak menghapal jawaban saya. Akhirnya ketika saya memperkenalkan diri, saya melakukannya dengan terbata-bata. Kenapa? Karena saya merencanakan untuk menjawabnya dengan wah sesuai dengan saran-saran di blog tentang LPDP yang saya baca. Padahal sih yang namanya perkenalan diri, ya simpel aja. Masa iya baru ketemu orang lain sudah langsung ngomongnya tingkat tinggi.

Mungkin memang tidak cocok

Setelah mengarungi dunia perbeasiswaan, saya baru menyadari bahwa beasiswa itu cocok tidak cocok. Mungkin memang LPDP tidak cocok untuk saya. Karena ketika saya mengisi psikotesnya pun, saya tidak menjadi diri saya sendiri. Saya menempatkan diri dalam perspektif “LPDP.”

Contoh, ada pertanyaan (saya agak lupa, tapi kira-kira begini), “Menurut saya, generasi muda saat ini perlu meningkatkan nasionalismenya.” Nah karena saya menempatkan diri di kacamata pemberi beasiswa, saya jawabnya iya. Padahal kalau saya jawab menjadi diri, saya akan jawab tidak. Dan banyak lagi pertanyaan yang saya jawab tidak sesuai dengan hati nurani dan pemikiran saya .

Ujung-ujungnya, ketidakcocokan itu muncul di wawancara.

Mungkin saya cuma ikut-ikutan

Waktu itu kalau nggak ikutan beasiswa LPDP kayaknya nggak afdol. Karena banyak teman-teman saya dan juga orang sekeliling saya dapat beasiswa LPDP. Padahal mungkin yang saya cari tidak ada di LPDP. Jadilah saya kurang maksimal dan kurang fokus dalam membuat lamaran dan mempersiapkan diri.

Ketika gagal, perasaan yang saya rasakan bukan sedih tapi marah. Jadilah saya berkesimpulan bahwa saya cuma ikut tren saja.

Nah buat kamu yang mau melamar beasiswa LPDP, saran saya, pahami benar apa yang kamu mau. Melamarlah dengan alasan yang tepat supaya persiapan yang kamu lakukan matang dan hasilnya juga baik. Jadilah dirimu sendiri dalam aplikasi sehingga kamu bisa menjawab segala pertanyaan dari dalam hati.

LPDP adalah beasiswa dari Indonesia untuk Indonesia. Pantaskan diri kita jika ingin mendapatkannya. Ikuti aturan yang mereka miliki, dan ubah mindset kita.

You may also like

Leave a Comment