Anak Tak Bisa Berhenti Bicara Seperti YouTuber

by retnolestari
Konsums media sosial anak

Saya mencoba memejamkan mata karena jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Tapi sebarapa keras usaha saya, kepala saya tidak bisa berhenti berpikir. Lalu saya membuka handphone, melihat satu per satu postingan orang di Instagram. Seolah Instagram adalah magnet, saya tidak bisa berpisah dengannya. Tentu, bukannya bisa tidur, otak saya semakin terstimulasi dengan banyaknya informasi.

Seringkali saya duduk di kereta dalam perjalanan lebih dari satu jam. Kebosanan pun melanda. Seolah tidak ada hal yang lain yang bisa saya lakukan, saya pun melihat Instagram atau LinkedIn atau sekedar melihat video-video di TikTok. Jemari saya cepat sekali menekan perpindahan satu visual ke visual yang lain. Atau scrolling layar untuk membaca cepat tulisan orang. Lagi-lagi jejalan ratusan atau ribuan informasi saya pilih, ketimbang duduk diam bosan. Padahal saya bisa meditasi, memejamkan mata, atau membawa buku di tas supaya saya hanya membatasi kepala saya menyerap beberapa hal saja.

Saya bukan tidak menyadari efek dari mengonsumsi media sosial. Apalagi saya belajar ilmu komunikasi dan media secara formal. Saya tau betul bahwa saya mabuk informasi. Tapi seperti halnya anak kecil yang tidak bisa berhenti mengonsumsi sesuatu yang manis, saya tidak bisa berhenti mengonsumsi media sosial.

Celakanya, kalau yang dewasa seperti saya saja tidak mampu berhenti, apalagi anak-anak?

Games membuatnya emosional dan sensitif

Anak saya, Kenzie, saat ini berusia 5 tahun, usia emas di mana otaknya seperti spons dalam menyerap informasi, pengetahuan, dan pengalaman yang akan membentuk kepribadiannya. Pada usia ini juga, dia membutuhkan perhatian ekstra, karena sebagai seorang anak kecil, dia butuh pengakuan dan pujian. Sedikit-sedikit dia pasti bilang, “Ibu lihat.” Atau dia mengajak saya bermain. Sementara saya harus bekerja setiap hari plus mengerjakan pekerjaan domestik. Kalau tinggal di Indonesia, kita bisa menyewa asisten rumah tangga atau baby sitter. Tapi karena saya kini bermukim di negara lain, maka mencari bantuan tenaga hampir mustahil kalau kita tidak kaya. Akhirnya apa? Ya, TV dan tablet jadi solusinya.

Awalnya, saya tidak begitu menyadari dampak buruk memberikan gadget ke anak saya. Saya cuma keheranan, mengapa dia jadi sangat emosional dan sensitif. Dia memang tidak agresif, tapi dia jadi sering sedih dan menangis. Lalu ada perubahan lain yang sangat signifikan, dia tidak berhenti berbicara. Apapun selalu diberi komentar. Saya sering lelah mendengarnya. Dia seolah berpikir bahwa dalam hidup itu, kita harus berbicara setiap waktu. “Ada apa dengan, Kenzie?” Tanya saya dalam hati.

Suatu hari, saya memberikan dia sebuah game, Mario Bros. Wah, dia senangnya bukan main. Super Mario nama kasetnya, yang dimainkan dengan Wii bekas. Lagi-lagi perangai dia berubah. Dia pasti menangis di akhir permainan tanpa ada penyebab yang jelas. Kemudian kepala berkeringat sepanjang permainan. Saya mulai berpikir kalau dia terlalu terstimulasi. Mungkin otaknya belum sebegitu berkembangnya sehingga dia tidak mampu mengelola emosinya.

Lalu saya memutuskan untuk tidak lagi membiarkannya bermain games. Dia pun setuju dan tidak melawan. “I don’t want to cry,” katanya. Semenjak dia tidak bermain games, dia juga tidak menangis. Di sinilah saya mulai menyadari bahwa permasalahan dengan tablet akarnya sama. Dia belum siap secara otak dan mental.

Mungkin YouTube anak lebih baik?

Di tablet, Kenzie saya beri kebebasan menonton YouTube anak. Konten-kontennya paling tidak sudah terseleksi. Tapi ternyata, menonton YouTube membuat dia hanya bisa berkonsentrasi kurang dari 2 menit, sebelum telunjuknya mengganti-ganti channel atau video. Dia jadi hiperaktif dan hiperkonsentrasi dengan tabletnya. Dan inilah jawaban kenapa dia jadi tidak berhenti berbicara, karena banyak content creator di YouTube yang membuat video dengan komentar tanpa henti. Misalnya, ada yang mengomentari tentang games atau mainan. Mungkin Kenzie berpikir, begitulah realita orang-orang berkomunikasi.

Saya pun melakukan percobaan. Saya minta dia berhenti menonton YouTube dan saya paksa beralih ke Netflix anak untuk menonton film panjang. Awalnya dia kesulitan konsentrasi dan cepat bosan karena kontennya cukup lama. Tapi lama-lama dia terbiasa. Perilaku dia pun jadi lebih baik. Meskipun masih cerewet, tapi dia tidak berbicara seperti gaya narator di YouTube.

Saya juga akhirnya membatasi konsumsinya akan media sosial dan gadget. Di hari-hari dia sekolah, kalau dia tidak minta, saya tidak memberinya tablet sama sekali. Kalau dia minta, saya batasi maksimal 1 jam. Nah, pas dia libur, saya tidak ada pilihan. Saya memberinya lebih banyak waktu di tablet, tapi saya bagi antara menonton Netflix, YouTube dan bermain games. Hasilnya, kini emosinya jadi jauh lebih baik. Dia pun punya konsentrasi yang lebih panjang.

Ini semua jadi pelajaran untuk saya untuk tidak melupakan bahwa media sosial adalah pisau bermata dua. Di satu bermanfaat, tapi di sisi lain juga jahat. Sehingga solusi paling tepat adalah adanya pembatasan dan seleksi atas pemilihan kontennya sendiri. Bukan salah gadget atau media sosial kalau itu merusak generasi kita, tapi salah kita yang tidak bisa memilah-milah. Semoga Kenzie dan anak-anak lainnya, bisa tumbuh dengan baik ditengah gempuran segala sesuatu yang serba cepat dan instan.

Leave a Comment